Membaca Sambil Mendengarkan: Apakah Membantu? (2026)

Memutar audio sambil membaca terasa seperti mengerjakan dua hal sekaligus. Apa kata penelitian tentang pengaruhnya pada pemahaman, menyimak, dan daya ingat.

Membaca Lebih Mudah daripada Mendengarkan

Kamu pasti kenal perasaan ini. Satu paragraf dalam bahasa yang kamu pelajari bisa kamu baca pelan-pelan, sesekali mencari arti satu kata, dan sebagian besar isinya kamu pahami. Lalu seseorang mengucapkan kalimat yang sama dengan keras, dan semuanya jadi tidak jelas. Kata-kata yang tadi kamu kenali di halaman lewat begitu saja di telingamu sebelum sempat kamu tangkap.

Jarak antara apa yang bisa kamu baca dan apa yang bisa kamu dengar bisa jadi salah satu bagian paling menjengkelkan dalam belajar bahasa. Ada kebiasaan sederhana yang tepat menyasar jarak itu: menekan putar, lalu mengikuti kata-katanya dengan mata sementara sebuah suara membacakannya untukmu.

Kedengarannya terlalu mudah untuk disebut belajar. Tapi membaca sambil mendengarkan sudah diteliti selama bertahun-tahun, dan temuannya lebih menarik, juga lebih jujur, daripada "lakukan keduanya dan untung dua kali."

Apa Itu Membaca Sambil Mendengarkan?

Membaca sambil mendengarkan artinya persis seperti namanya: kamu mengikuti teks tertulis dengan mata sambil mendengar teks yang sama dibacakan pada saat yang bersamaan. Para peneliti biasanya menyingkatnya menjadi RWL, dari istilah Inggris "reading while listening". Cara ini ada di antara dua hal yang sudah biasa kamu lakukan secara terpisah, yaitu membaca dalam hati dan mendengarkan tanpa teks, dan perbedaannya penting.

Saat membaca dalam hati, kamu yang mengatur kecepatan. Kamu bisa berhenti, kembali ke belakang, dan berlama-lama di kalimat yang sulit sesuka hati. Saat mendengarkan tanpa teks, pembicaralah yang menentukan kecepatan, dan kamu harus mengikutinya atau kehilangan alurnya. Membaca sambil mendengarkan memberimu kata-kata tertulis sebagai pegangan, sementara audio menarikmu maju dengan kecepatan yang mendekati percakapan alami.

Tujuan utama mengikuti teks sambil mendengarkan adalah menghubungkan setiap kata tertulis dengan bunyinya. Alasan mengapa ini mungkin membantu cukup sederhana: kamu mendapat bentuk tulisan dan bentuk lisan setiap kata pada saat yang sama, jadi ada kesempatan untuk mengaitkan wujud sebuah kata di halaman dengan bunyinya.

Apakah Membantu Kamu Memahami Lebih Banyak?

Sedikit. Keuntungan yang paling jelas muncul ketika pembandingnya adalah mendengarkan tanpa teks sama sekali.

Dalam studi tahun 2008 yang terbit di Reading in a Foreign Language, Ronan Brown, Rob Waring, dan Sangrawee Donkaewbua meminta 35 mahasiswa Jepang berkenalan dengan kata-kata baru lewat tiga cara: hanya membaca, membaca sambil mendengarkan, dan hanya mendengarkan. Cara hanya mendengarkan jauh yang tersulit. Para pembelajar tidak bisa mengatur kecepatan ucapan, dan para peneliti menyimpulkan bahwa mereka kemungkinan besar sulit membedakan di mana satu kata berakhir dan kata berikutnya dimulai dalam aliran bunyi yang bersambung. Pada tes makna langsung, kelompok yang hanya mendengarkan baru menguasai sekitar 2 persen kata target, dibandingkan sekitar 15 sampai 16 persen pada kedua cara yang menyertakan teks tertulis. Tidak satu pun mahasiswa dalam studi itu mengaku lebih suka hanya mendengarkan.

Mengapa menambahkan teks begitu membantu? Para peneliti merujuk pada penelitian sebelumnya tentang cara pemula biasanya membaca. Jika dibiarkan sendiri, pembaca tingkat rendah sering memecah kalimat menjadi potongan kecil yang terpisah-pisah, sehingga maknanya hilang. Mendengar kalimat dibacakan dalam frasa utuh menjaga kalimat itu tetap utuh dan mendorong pembaca memproses bahasa dalam kelompok kata yang bermakna, bukan kata demi kata. Studi Anna Chang tahun 2009 dengan 84 mahasiswa menemukan bahwa para pembelajar memahami cerita pendek sekitar 10 persen lebih baik ketika membaca sambil mendengarkan dibandingkan ketika hanya mendengarkan, dan sebagian besar dari mereka melaporkan bahwa mengikuti teks membuat tugas terasa lebih mudah dan ceritanya lebih menarik.

Catatan jujurnya: keuntungan ini diukur terhadap mendengarkan saja. Dibandingkan dengan membaca dalam hati, studi-studi di bawah ini tidak menemukan keunggulan yang jelas: Brown dan rekan-rekannya mendapati hasil kosakata yang mirip antara hanya membaca dan membaca sambil mendengarkan, dan studi tahun 2016 dengan 91 peserta tidak menemukan perbedaan dalam pemahaman. Kalau kamu sudah nyaman membaca sebuah bacaan, memutar audio di atasnya mungkin tidak banyak menaikkan pemahamanmu atas bacaan itu. Temuan yang lebih jelas adalah bahwa membaca sambil mendengarkan membantu pemahaman ketika menyimak adalah titik lemahnya.

Bagaimana dengan Kemampuan Menyimakmu?

Di sinilah membaca sambil mendengarkan membuktikan gunanya, dan ini manfaat yang paling mudah terlewat.

Masalah "tidak jelas di telinga" dari pembukaan tadi ada penyebab yang nyata. Bahasa lisan bergerak cepat, dan satu kata menyambung ke kata berikutnya tanpa spasi putih di antaranya seperti pada tulisan cetak. Agar bisa mengikuti, otakmu harus mengenali kata lisan hampir seketika, dan di tahap awal otak memang belum sanggup. Kamu mengenal kata itu lewat tulisan tapi belum lewat bunyi, jadi kata itu melesat lewat tanpa sempat ditangkap.

Membaca sambil mendengarkan menyasar jarak itu secara langsung dengan menampilkan bentuk tulisan dan bentuk lisan setiap kata pada saat yang sama. Setelah banyak halaman, otakmu membangun hubungan antara keduanya, dan kata-kata yang tadinya hanya kamu kenal di atas kertas mulai terdeteksi lewat telinga. Dalam studi 26 minggu yang diterbitkan Chang pada 2011, sekelompok kecil pembelajar yang secara sukarela membaca sambil mendengarkan buku audio meningkatkan skor tes dikte, yaitu menuliskan apa yang kamu dengar dengan kecepatan normal, lebih dari 100 persen, dan mereka mengungguli kelompok pembanding di kelas biasa secara signifikan. Kosakata mereka juga bertambah sebagai hasil sampingan, diperkirakan 566 kata dibandingkan 123 kata pada kelompok pembanding, padahal kosakata tidak pernah menjadi fokus mereka.

Studi itu kecil, hanya tujuh pembelajar di kelompok membaca sambil mendengarkan, dan penulisnya terus terang mengatakan bahwa studi itu perlu diulang dalam skala lebih besar sebelum ada yang bersandar pada angka pastinya. Meski begitu, hasilnya sejalan dengan temuan Brown dan Chang di atas, ketika adanya teks membuat kata-kata lisan lebih mudah diikuti. Memasangkan teks dengan audio tampak menjanjikan untuk melatih telinga, karena kamu melihat dan mendengar setiap kata pada saat yang sama.

Apakah Lebih Banyak Kata yang Melekat?

Membaca sambil mendengarkan baik untuk kosakata, tetapi belum tentu lebih baik daripada membaca saja.

Dalam studi Brown, Waring, dan Donkaewbua, hasil kosakata pada cara hanya membaca dan membaca sambil mendengarkan ternyata mirip. Tiga bulan kemudian, skor tes pilihan ganda hampir tidak turun pada kedua cara, tetapi pada tes yang lebih sulit, ketika para pembelajar harus menyebutkan sendiri artinya, hanya sekitar satu dari 28 kata target yang masih diingat. Kesimpulan para peneliti sangat lugas:

Mengingat hasil belajar yang diharapkan hampir sama dari tiap cara ini, tampaknya pilihan cara input yang disukai sebaiknya diserahkan kepada pembelajar.

Brown, Waring dan Donkaewbua (2008)

Tambahkan audio kalau itu membuatmu tetap terlibat dan terus bergerak; lewati kalau itu mengganggu. Keduanya bukan kecurangan.

Ada satu benang merah dari studi-studi ini yang layak diingat: kata yang lebih sering muncul adalah kata yang melekat. Kata yang kamu temui sekali, dengan cara apa pun, biasanya terlupakan. Kata yang kamu temui sepuluh kali dalam satu cerita cenderung menetap. Itu lebih merupakan argumen untuk membaca teks dalam jumlah banyak yang sebagian besar bisa kamu ikuti, entah ada suara yang membacakan atau tidak, daripada untuk satu teknik tertentu.

Jadi, Apakah Lebih Baik daripada Hanya Membaca?

Inilah temuan yang menjaga gambaran ini tetap jujur. Dalam studi tahun 2016, Beth Rogowsky dan rekan-rekannya meminta 91 orang menyerap kata pengantar dan satu bab sebuah buku nonfiksi dengan membaca e-teks, mendengarkan buku audio, atau melakukan keduanya sekaligus. Mereka tidak menemukan perbedaan pemahaman yang signifikan, baik langsung maupun dua minggu kemudian. Studi itu bukan tentang belajar bahasa, dan bagi orang-orang di dalamnya, cara yang dipakai tidak membuat perbedaan yang bisa diukur.

Studi-studi di atas yang menemukan keunggulan membaca sambil mendengarkan dilakukan pada orang yang sedang mempelajari bahasa kedua. Jadi membaca sambil mendengarkan tampaknya terutama merupakan alat bagi pembelajar. Salah satu penjelasannya, bagi pembelajar, mengenali kata tertulis belum berlangsung otomatis. Begitu sudah otomatis, bantuan ini tidak banyak lagi yang bisa ditambahkan.

Membaca sambil mendengarkan cenderung paling membantu ketika:

  • Kamu berada di tingkat dasar atau menengah dan ucapan yang bersambung masih terasa terlalu cepat dan membuatmu kewalahan.
  • Kamu mendapati dirimu membaca kata demi kata dan kehilangan alur kalimat.
  • Kamu ingin melatih menyimak dan membaca sekaligus, saat waktumu terbatas.

Dan manfaatnya lebih kecil ketika kamu sudah nyaman dengan teksnya, atau ketika audio justru menarik perhatianmu dari halaman, bukan menuntunnya.

Cara Menjalankannya agar Berhasil

Beberapa hal membedakan membaca sambil mendengarkan yang berhasil dari yang hanya memenuhi ruangan dengan bunyi:

Pilih teks yang sebagian besar bisa kamu ikuti. Seluruh cara ini bergantung pada kemampuanmu menjaga audio dan teks tetap sejajar di kepala. Kalau hampir setiap kata asing, suara itu hanya jadi bising. Cerita bertingkat dan bahan lain yang sesuai tingkatmu paling cocok, dan itu satu alasan lagi mengapa buku bacaan bertingkat pantas ada dalam kebiasaan membacamu.

Biarkan audio mengatur kecepatan, dengan sengaja. Intinya adalah berhenti memotong kalimat menjadi serpihan. Usahakan membaca secepat suaranya, jangan berlari mendahului atau tertinggal di belakang, dan biarkan suara itu membawamu melewati kalimat dalam frasa utuh.

Berhenti kalau perlu, lalu lanjutkan. Membaca sambil mendengarkan bukan ujian ketahanan. Berhentilah di kata yang ingin kamu cari artinya, pahami maknanya, lalu lanjutkan. Kamu tidak perlu memahami setiap kata, dan berusaha melakukannya biasanya justru yang membuatmu macet.

Pada akhirnya, dengarkan tanpa teks. Kata-kata tertulis adalah penopang, bukan tongkat permanen. Setelah sebuah cerita terasa nyaman dengan teks, coba putar ulang satu bagian sambil memejamkan mata. Kalau sekarang kamu bisa mengikutinya, hubungan antara bunyi dan makna sudah terbentuk.

Alat pembaca suara apa pun bisa mendukung kebiasaan ini. Beberapa aplikasi menyediakan buku audio dengan narasi profesional; aplikasi baca seperti Simply Fluent menempuh jalan lain, yaitu memakai suara bawaan perangkatmu untuk membacakan halaman mana pun, sehingga kamu bisa mengikuti, berhenti di mana saja untuk menerjemahkan kata atau frasa, lalu melanjutkan mendengarkan, baik di buku yang kamu impor sendiri maupun di perpustakaannya. Narasi rekaman dan suara perangkat masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tetapi untuk kebiasaan membaca sambil mendengarkan, yang penting hanyalah teks dan audio bergerak bersama.

Apa yang Bisa Diharapkan

Membaca sambil mendengarkan tidak akan membuatmu fasih dengan sendirinya, dan penelitiannya tidak berpura-pura begitu. Yang dilakukannya lebih kecil dan lebih spesifik: menutup jarak antara bahasa yang bisa kamu baca dan bahasa yang bisa kamu dengar, mencegah pembelajar memotong kalimat menjadi serpihan tanpa makna, dan melatih telingamu selagi kamu membaca.

Bagian terakhir itu mudah terlewat. Membaca dalam hati terutama melatih satu keterampilan. Mengikuti audio memungkinkanmu membangun dua keterampilan sekaligus, tepat pada tahap ketika telingamu paling butuh bantuan. Tekan putar dan biarkan matamu tetap di kata-kata.

Apakah ini berguna?

Mulai satu buku malam ini.

Buku dalam 45 bahasa, dan Premium selama 30 hari untuk semua orang.

Unduh di App StoreDapatkan di Google Play